Saling Sindir di Mata Najwa, Faldo Maldini Tertunduk dan Pegang Dagu saat Dimarahi Irma Suryani

8
loading...

 
Gosipviral.com – Anggota Tim Kemenangan Nasional (TKN) Irma Suryani terlihat saling adu argumen dengan Badan Pemenangan Nasional (BPN), Faldo Maldini di Mata Najwa.

Dilansir TribunWow.com, hal itu tampak dari acara Mata Najwa, pada Rabu (6/2/2019).
Dalam acara yang membahas soal ‘Tancap Gas Jelang Pentas’ itu, mereka saling sindir hingga Irma Suryani tampak memarahi anggota BPN Faldo Maldini.
Hal itu bermula ketika Faldo Maldini menjawab soal polemik ‘Konsultan Asing’ yang ramai dibicarakan, tinggal dicek saja.
C’ome on (ayolah), pemerintah ini tinggal melakukan pengecekan, tentang apa pun, tadi ngomong intel dan macam-macam,” kata Faldo.
“Nah jangan sampai, jangan sampai ketika nanti dibilang konsultan asing, tadi Bang Budiman Sudjatmiko….,” kata Faldo Maldini.
Mendengar itu, Budiman selaku anggota TKN langsung memotong omongan Faldo Maldini.
“Sebentar, ada jumping, kalau saya menyebutkan referensi asing, jangan langsung dikaitkan dengan konsultan asing,” teriak Budiman Sudjatmiko.
Menanggapi hal itu, Faldo Maldini langsung tertawa.
“Santai, saya belum sampai ke sana, Abang ini terlalu kencang mikirnya ke saya,” jawab Faldo Maldini.
Faldo Maldini kemduian menyindir data-data yang dikeluarkan oleh Budiman Sudjatmiko.
“Jangan sampai itu (data-data) tuduhan larinya ke tim sendiri,” ujar Faldo Maldini.
“Dan kalau menurut saya, kita coba, petahana, kita keluarkan pesan-pesan persatuan, pesan-pesan yang mengajak bukan politik belah bambu, satu diajak, satu angkat,” sambung Faldo Maldini.
Mendengar hal itu, Budiman Sudjatmiko mau memberikan tanggapan, tapi langsung dipotong oleh Irma Suryani yang meminta giliran untuk berbicara.
“Sebentar mas, saya mau berbicara, saya mau katakan Faldo ini kalau berbicara memang halus, tapi sebenarnya hoaksnya banyak ini,” kata Irma Suryani.
“Waduh,” teriak Faldo Maldini sembari tertawa.
“Salah satu contoh begini, belah bambu, satu diinjak, satu diangkat, sebenarnya itu jahat sekali, mau menggiring opini publik, mau memperlihatkan seolah-olah bahwa pemerintah itu jahat, tidak benar, dan sebagainya,” kata Irma Suryani.
Mendengar itu, Faldo Maldini mengatakan Irma Suryani melontarkan tuduhan-tuduhan padanya.
Tak terima omongannya dipotong, Irma Suryani langsung memarahi Faldo.
“Sebentar, saya sedang ngomong, jangan kebiasaan kalian ini ya (memotong omongan),” kata Irma dengan nada tinggi.
“Oh ya, siap,” jawab Faldo Maldini sembari memegang dagunya dan tertunduk, sementara satu tangannya bersedekap.
Namun, sejenak kemudian, Faldo Maldini tertawa singkat dan penonton bertepuk tangan mendengar ucapan Irma.
Faldo Maldini lantas diam dan membiarkan Irma Suryani untuk berbicara.

“Jadi begini sahabat-sahabatku semua, enggak mungkin juga seseorang tidak mempunyai batas kesabaran,” lanjut Irma.
“Pak Jokowi itu sangat sabar, sangat santun dan tidak pernah bicara keras, tetapi ketika di-bully terus menerus, difitnah terus menerus, ketika dikatakan macam-macam, presiden ‘plonga-plongo’ lah, PKI lah, mau tidak harus marah dan mengatakan ‘jangan terus menerus menghina saya’,” sambung Irma.
Lihat videonya di bawah ini:


Polemik Konsultan Asing

Diketahui, istilah Konsultan Rusia (Asing) mencuat setelah Jokowi menyebut adanya tim sukses yang menggunakan gaya politik ‘propaganda Rusia’.

Diberitakan dari Surya, Jokowi merasa hal itu dilakukan oleh salah satu tim sukses untuk menyebarkan berita palsu atau hoaks, Sabtu (2/2/2019).

Untuk itu, Jokowi mengajak para alumni perguruan tinggi yang mendukungnya untuk ikut serta memerangi hal itu.

”Saya merasa yang ada di hadapan saya adalah intelektual karena lulusan perguruan tinggi ternama,” papar Jokowi di depan ribuan alumni di Jalan Pahlawan, Surabaya (2/2/2019).

”Oleh karena itu, saya mengajak kawan-kawan sekalian. Saat ini kita menghadapi banyaknya hoaks, kabar bohong yang lalu lalang di media sosial,” sambungnya.

Lalu, Jokowi menyatakan, dalam berpolitik seharusnya dilakukan dengan cara yang bijaksana.

”Kami ingin menyampaikan dengan cara politik kita harus memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa gaya politik kita cara politik yang penuh etika, tata krama, penuh peradaban, penuh dengan sopan santun,” jelas Jokowi.

Menurut Jokowi, hal itu perlu dilakukan sebab ia merasa ada tim sukses yang menyatakan kabar fitnah.

Ia menyebut terdapat tim sukses yang sedang menyiapkan sebuah propaganda Rusia.

”Problemnya, ada tim sukses yang menyiapkan sebuah propaganda Rusia,” ungkap Jokowi.

“Setiap saat selalu mengeluarkan semburan fitnah. Setiap saat selalu mengeluarkan semburan dusta dan hoaks,” sambungnya.

Untuk itu, dirinya meyakinkan kepada para relawan nantinya untuk ikut memerangi polemik kabar hoaks jelang Pilpres 2019.

”Ini yang harus dilakukan bapak ibu sekalian sebagai alumnus perguruan tinggi. Kami meyakini sebagai arek (warga) Surabaya, pasti wani (berani),” tegasnya.

Menanggai polemik istilah Propaganda Rusia, Wakil Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin Abdul Kadir Karding, kemudian meluruskan hal tersebut.

Dikutip TribunWow.com dari Tribunnews.com, Abdul Kadir Karding menjelaskan bahwa capres Jokowi menyingung konsultan asal Rusia yang berupaya menebar ketakutan, pesimisme, dan memproduksi hoaks di tengah masyarakat jelang Pilpres 2019.

“Yang dimaksud itu bukan Rusia sebagai negara, pemerintah, bangsa. Tetapi dugaan dibantu oleh konsultan dari Rusia,” tegas Abdul Kadir Karding, Senin (4/2/2019).

Tanggapan Kedubes Rusia

Dikutip dari akun Twitter resmi Kedutaan Besar Rusia di Indonesia, @RsEmbJakarta, Kebubes Rusia di Indonesia angkat bicara atas polemik ‘propaganda Rusia’ yang sedang ramai diperbincangkan, Senin (4/2/2019).

Kedutaan Besar Rusia menegaskan bahwa pihaknya tidak ikut campur urusan pemilu di Indonesia.

Menurutnya, istilah propaganda sama sekali tidak berdasarkan pada realitas.

“Berkaitan dengan beberapa publikasi di media massa tentang seakan-akan penggunaan “propaganda Rusia” oleh kekuatan-kekuatan politik tertentu di Indonesia, kami ingin menyampaikan sebagai berikut.

Sebagaimana diketahui istilah “propaganda Rusia” direkayasa pada tahun 2016 di Amerika Serikat dalam rangka kampanye pemilu presiden. Istilah ini sama sekali tidak berdasarkan pada realitas,” tulis Kedutaan Besar Rusia.

Lebih lanjut, kedutaan tersebut juga menyinggung prinsip dalam bernegara.

Kendati kedutaannya berada di Indonesia, pihaknya menyatakan tak akan mencampuri urusan dalam negeri seperti di Indonesia.

“Kami menggarisbawahi bahwa posisi prinsipil Rusia adalah tidak campur tangan pada urusan dalam negeri dan proses-proses elektoral di negara-negara asing, termasuk Indonesia yang merupakan sahabat dekat dan mitra penting kami,” tegasnya.


tribunwow