Fadli Zon Bengong Pernyataannya Dipotong Seorang Yang Misterius, Karni Ilyas Minta agar Tidak Diinterupsi

14
loading...


Gosipviral.com – Pembawa Acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Karni Ilyas tidak mengizinkan adanya interupsi saat Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyampaikan gagasannya.

Hal tersebut tampak dalam program Indonesia Lawyers Club (ILC) bertajuk ‘Yang Terjerat UU ITE: Buni Yani, Ahmad Dhani, Siapa Lagi?’ yang tayang di tvOne, Selasa (5/2/2019).

Awalnya, Fadli Zon memaparkan pendapatnya terkait hukum yang dinilai tidak adil.

Fadli Zon memaparkan sejumlah kasus yang sudah ia laporkan ke pihak berwajib, namun tidak juga diproses.


“Saya sudah berkali-kali di forum ILC ini, menyampaikan bahwa saya juga melaporkan paling tidak ada 8-9 kasus ke polisi untuk menjerat menggunakan Undang-Undang yang sama (UU ITE). Dan bahkan tidak ada apa-apanya yang dilakukan oleh saudara Ahmad Dhani dengan apa yang saya laporkan,” papar Fadli Zon.

“Misalnya ini saudara Nathan Suwanto,”ucapnya sambil menunjukkan kertas berisi hasil print akun Twitter Nathan.

“Ini mengancam pembunuhan. Tidak diapa-apakan sampai sekarang, tidak jelas. Ini saya laporkan (tanggal) 1 Mei 2017.”

“Tidak ada kejelasan tentang laporan ini. Ini diskriminasi hukum. Polisi tidak menindaklanjuti ini,” kata Fadli Zon.

Fadli Zon memaparkan, Nathan Suwanto kala itu menuliskan kicauan di akun Twitter miliknya, yang berisi ancaman untuk membunuh dirinya, Anggota DPR Fahira Idris, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, Ketua FPI Rizieq Shihab, Buni Yani, dan lain sebagainya.

“Nathan Suwanto mengatakan (dalam) bahasa Inggris, ‘If you know of a way to crowdfund assassins to kill Fahira Idris, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Rizieq Shihab, Buni Yani and friends, lemme know.’ Ini jelas-jelas ancaman pembunuhan. Karena dia jelas-jelas mengundang para pembunuh bayaran untuk membunuh nama-nama yang tadi disebutkan di sana,” ujarnya.

“Orangnya ada, bukan siluman, kalau mau dideteksi gampang. Kalau polisi mau mendeteksi orang ini, saya kira sebentar. Satu jam juga bisa. Tapi tidak dilakukan oleh polisi. Ini kenyataan,” sambung Fadli Zon.

Fadli Zon lantas menyebutkan sejumlah contoh kasus lainnya yang ia laporkan.

Laporannya itu ditujukan untuk sejumlah nama, misalnya Musisi Ananda Sukarlan, hinggi Politisi PSI Raja Juli Antoni dan Rian Ernest.

“Kemudian laporan tanggal 16 November 2017 mengenai ujaran kebencian dan seterusnya, saya tidak perlu baca satu-sati nanti kepanjangan. Ini contoh-contoh diskriminalisasi terhadap pelaksanaan UU ITE ini,” paparnya.

Fadli Zon terus membahas sejumlah contoh lainnya hingga Karni Ilyas memberikan teguran.

“Tolong diperpendek ya,” kata Karni Ilyas mengingatkan sang Wakil Ketua DPR RI itu.

Fadli Zon pun mempercepat pemaparannya itu, ia langsung memaparkan inti dari pernyataannya.

“Jadi ini hukum model apa? Saya melaporkan, saya wakil ketua DPR, melaporkan pada pihak kepolisian, tidak ditindaklanjuti. Saya kira rakyat harus tahu bahwa di Indonesia ini ada ketidakadilan hukum. Dan saya kira apa yang diulang-ulang itu, hukum hanya tajam pada lawan politik, tapi begitu tumpul pada kawan-kawannya,” tegasnya.

Tiba-tiba pernyataan Fadli Zon itu coba diinterupsi.

Namun, tak diketahui siapa yang berbicara saat itu.

“Bang Karni, boleh ijin klarifikasi?” tanya suara tersebut.

Saat ada yang menginterupsi, tampak Fadli Zon menoleh ke arah suara di sebelah kanannya.

Ia bahkan sempat bengong sebentar.


“Enggak. Dia sudah mau habis,” jawab Karni Ilyas singkat.

Fadli Zon lantas melanjutkan pemaparannya.

“Jadi inilah yang terjadi. Dalam hal ini kita tidak melihat ada keadilan hukum di dalam menerapkan UU ini sendiri. Jadi UUnya bisa bermasalah, tetapi penerapan dari UU ini lebih bermasalah lagi.”

“Karena jelas sekali di sini hukum menjadi alat politik, menjadi alat kekuasaan. Dan menurut saya ini yang sekarang harus kita selesaikan,”

“Apakah saya harus menunggu sampai Prabowo jadi presiden supaya laporan-laporan saya ini bisa ditindaklanjuti oleh aparat kepolisian?” pungkasnya.

Lihat videonya mulai menit 11.10