BPN Dinilai Hanya Menyampaikan Dalih saat Bahas Pertumbuhan Ekonomi Era Jokowi, TKN Skak Mat, Makjleb!

4
loading...

Gosipviral.com – Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Deddy Sitorus terlibat perdebatan panas dengan Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ahmad Fanani.

Hal tersebut seperti yang tampak dalam tayangan iNews Special Report, Jumat (5/4/2019).

Awalnya, Deddy membahas soal kepuasan masyarakat pada pemerintahan Calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi).

Ia lantas mencontohkan sejumlah wilayah perbatasan Indonesia yang sebelumnya tak pernah melihat aspal.

“Hanya diaspal kurang dari 5 kilometer, cintanya terhadap Jokowi itu luar biasa,” ungkap Deddy.

Terkait janji-janji Jokowi, Deddy menegaskan, tidak ada satupun pemerintahan yang berhasil menepatinya 100 persen.

“Tapi mari lihat tingkat kepuasan. Tingkat kepuasan itu 70-75 persen,” tegas dia.

Deddy menyebut, dalam 1 periode pemerintahan Jokowi, Jawa dan Sumatera sudah terkoneksi.

“Sekarang orang di Kalimantan, Sulawesi, Papua menunggu yang lebih konkret. Ini yang namanya social justice. Sudah di depan mata,” ujar dia.

Menanggapi itu, Fanani menilai, jika hal-hal yang disampaikan Deddy itu adalah prestasi Jokowi, maka harusnya ada korelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

“Tapi nyatanya pertumbuhan ekonomi kita,” kata Fanani.

“Oh enggak dong jauh. Jauh. Anda enggak mengerti,” potong Deddy.

Ia lantas bicara soal pertumbuhan ekonomi.

“Anda membandingkan mana? Zaman SBY (Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono)?” tanya Deddy.

“Zaman SBY itu komoditi kita itu booming pak. Kelapa sawit sedang booming, karet sedang booming, batu bara sedang booming, pertumbuhan ekonomi dunia juga sedang tinggi,” jelas Deddy.

“Sekarang situasi Pak Jokowi, hanya dengan 5,3 persen saja, infrastruktur sudah di mana-mana, penurunan angka kemiskinan signifikan, penurunan pengangguran signifikan. Jadi jangan bawa-bawa pertumbuhan ekonomi,” sambung dia.

Pembawa acara lantas meminta Deddy untuk mempersilakan Fanani berbicara.

“Tentu Bang Deddy bisa menyajikan dalih-dalih seribu dalih,” kata Fanani.

“Bukan dalih, itu fakta,” tegas Deddy.

Tak menghiraukan, Fanani tetap menyampaikan pemaparannya.

“Faktanya, 4,5 tahun yang lalu Pak Jokowi janji akan membuat Indonesia bisa tumbuh 7 persen. Hari ini pertumbuhan 7 persen itu tidak tercapai. Bahkan untuk 5,5 persen aja beratnya minta ampun,” kata Fanani.

Fanani juga menyingung janji Jokowi untuk menciptakan 10 juta lapangan kerja yang tidak tercapai.

Fanani lantas membahas soal keluhan masyarakat bawah, terutama emak-emak karena komoditas pangan yang mahal.

“Kalau tadi bang Deddy menyampaikan dalih-dalih tersebut,” kata Fanani.

“Jangan bilang dalih dong. Saya tidak menyebut dalih. Saya menyampaikan fakta kepada Anda. Silahkan buka telpon Anda, cari angka (data dan faktanya). Jangan bilang dalih. Saya tidak setuju. Yang saya sampaikan fakta,” tegas Deddy.

“Boleh menyampaikannya,” ucap Fanani.

“Lah iya jangan bilang dalih dong. Karena itu meremehkan,” ujar Deddy.

Tak menghiraukan Deddy, Fanani masih terus memaparkan pendapatnya.

“Kalau kemudian kita mengukur Pak Jokowi, ukur dari janji-janjinya. Dan menurut saya, kalau misalnya Bang Deddy bisa menyampaikan banyak janji-janji yang tidak substansial, tapi kalau misalnya yang substansial itu, pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Itu kan bisa dipenuhi,” kata Fanani.

Namun, Deddy kembali memotong.

Ia tak setuju pada pernyataan Fanani itu.

“Biar Anda paham sedikit, pertumbuhan ekonomi itu tergantung banyak faktor bung. Yang bisa Anda pastikan, bangun jalan sepanjang 3 kilometer, sekian bulan, itu bisa,” ujar Deddy.

“Pertumbuhan ekonomi banyak faktor yang mempengaruhi. Internal maupun eksternal. Sekarang Anda bandingkan dulu, baru berpendapat,” sambung dia.

Berbeda pendapat, Fanani menegaskan, ada fakta bahwa Jokowi telah berjanji pada 4,5 tahun lalu.

“Iya benar. Makanya saya jelaskan pada Anda biar ngerti. Yang namanya pertumbuhan ekonomi banyak faktor determinan,” kata Deddy.

“Kita bicara secara sederhananya saja. Pak Jokowi bicaranya ..,” pernyataan Fanani kembali dipotong.

“Nggak, bicara pakai logika dan pakai data,” tegas Deddy.

“Anda bagaimana mempengaruhi situasi global dunia? Nggak bisa kan. Prabowo mengukur perusahaannya saja nggak bisa, apalagi Indonesia,” tandas Deddy akhirnya.

Simak video selengkapnya:


Artikel ini telah tayang di Tribunwow.com