Anggota BPN Prabowo-Sandi Tertawa saat Jubir TKN Inas Nasrullah Sebut Sudirman Said ‘Ayam Sayur’

8
loading...

Gosipviral.com – Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Inas Nasrullah Zubir memberikan sebutan untuk Direktur Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Sudirman Said.

Sebutan itu dilontarkan Inas Nasrullah saat menjadi narasumber bersama anggota BPN, Faldo Maldini di acara Apa Kabar Indonesia Malam, tv One, Kamis (21/2/2019) malam.

Keduanya dihadirkan untuk membahas pernyatan Sudirman Said yang menuding Jokowi telah melakukan pertemuan rahasia dengan bos Freeport, James R Moffet sebelum perpanjangan kontrak PT Freeport pada 7 Oktober 2015.

Inas menyebut bahwa Sudirman Said lah yang bermasalah.

Ia juga mengatakan bahwa seharusnya Sudirman Said bertemu dengannya di sebuah acara stasiun televisi swasta untuk membahas mengenai pernyataan kontroversial mantan Menteri ESDM itu.

Namun, Inas menuturkan bahwa Sudirman Said menolak bertemu dengannya.

“Contohnya kenapa dia bermasalah? Hari ini seharusnya Sudirman Said ya bertemu dengan saya di CNN jam 7,” ujar Inas.

“Tapi Sudirman Said menolak bertemu saya jam 7 di CNN, kemudian kebetulan tv One menelpon saya, saya datang ke sini.”

Inas lalu menyebut Sudirman Siad ‘ayam sayur’ lantaran takut bertemu dengannya karena tak berani mempertanggungjawabkan pernyataannya.

“Sudirman Said itu ‘ayam sayur’ yang tidak berani mempertanggungjawabkan perkataannya,” tambah Inas.

Mendengar rekannya disebut sebagai ‘ayam sayur’, Faldo Maldini terdengar tertawa.

“Enggaklah,” ujar Faldo setelah tertawa.


Faldo Maldini tersenyum lebar saat Inas Nasrullah menyebut Sudirman Said ‘ayam sayur’ di Apa Kabar Indonesia Malam
Faldo Maldini tertawa saat Inas Nasrullah menyebut Sudirman Said ‘ayam sayur’ di Apa Kabar Indonesia Malam, Kamis (21/2/2019). (Capture/Youtube Talkshow tvOne)
Inas lalu melanjutkan argumennya.

“Kalau dia berani mempertanggungjawabkan perkataannya seharusnya dia berani melawan saya di CNN jam 7 hari ini,” tutup Inas.

Lihat videonya berikut ini:




Sementara itu diberitakan sebelumnya, Sudirman Said menuding adanya pertemuan rahasia Jokowi dengan Presiden Freeport McMoran Inc, James R. Moffet di Indonesia.

Dikutip TribunWow.com dari Tribunnews, tudingan itu ia lontarkan dalam acara diskusi peluncuran buku ‘Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan’, di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20//2/2019).

Namun tudingan itu langsung dibantah oleh Jokowi.

Jokowi mengatakan pertemuan itu dilakukan secara terbuka dan tidak dilakukan secara diam-diam.

Tudingan Sudirman Said

Awalnya, Sudirman Said memaparkan, pertemuan rahasia itu menjadi cikal bakal keluarnya surat tertanggal 7 Oktober 2015 dengan nomor 7522/13/MEM/2015, yang berisi perpanjangan kegiatan operasi freeport di Indonesia.

Hal tersebut disampaikannya karena selama ini ia sering dituding sebagai orang yang memperpanjang izin tersebut.

“Mengenai surat, tanggal 7 Oktober 2015, jadi surat itu menjadi penguatan publik, saya seolah olah memberi perpanjangan izin, itu persepsi publik,” kata Sudirman Said, Rabu (20/2/2019).

Sudirman Said yang juga merupakan anggota Timses Prabowo-Sandi ini lantas menceritakan kronologi pertemuan antara Jokowi dan James Moffet.

Menurut Sudirman Said, pada tanggal 6 Oktober 2015, sehari sebelum diterbitkannya surat perpanjangan, ia ditelepon ajudan presiden untuk datang ke istana.

Namun, ujar Sudirman Said, tak diketahui apa tujuan Jokowi memanggilnya melalui sambungan telepon itu.

“Kira-kira jam 8.30 WIB, saya datang dari rumah, duduk sekitar 5, 10 menit, langsung masuk ke ruang kerja pak presiden,” ungkapnya.

Sudirman Said berujar, ajudan presiden sempat membisikinya tepat sebelum mereka memasuki ruang kerja presiden.

Ia dibisiki untuk menganggap bahwa pertemuan tersebut tidak ada.

“Sebelum masuk ke ruang kerja, saya dibisiki oleh Aspri, ‘Pak Menteri pertemuan ini tidak ada’. Saya ungkap ini karena ini hak publik untuk mengetahui di balik keputusan ini. Jadi bahkan Setneg tidak tahu, Setkab tidak tahu,” paparnya.

Saat masuk ke dalam ruang kerja presiden, Sudirman mengaku kaget karena di sana sudah ada James Moffet dan tak ada pembicaraan panjang di sana.

Menurut Sudirman, kala itu Jokowi hanya memerintahkan membuat surat atau dokumen perpanjangan kontrak freeport di Indonesia.

“Dan tidak panjang lebar, presiden hanya katakan, tolong siapkan surat, seperti yang dibutuhkan,” paparnya.

“Kira-kira, kita ini ingin menjaga kelangsungan investasi lah. Nanti dibicarakan setelah pertemuan ini. Saya jawab ‘baik Pak Pres’, maka keluarlah saya bersama James Mofet ke suatu tempat. Freeport Indonesia juga tidak tahu Mofet itu ke Indonesia,” katanya.

Selanjutnya, James Moffet memberikan draft perpanjangan kerjasama kepadanya.

Namun, setelah dibawa, Sudirman Said mengatakan pada Moffet bahwa draft tersebut tidak sesuai.

“Kalau saya ikuti draftmu, maka akan ada presiden negara didikte korporasi. Saya tidak lakukan itu. You tell me what have been discussed with president, dan saya akan buat draft yang lindungi kepentingan republik,” beber Sudirman.

Sudirman mengatakan, ia kembali lagi ke kantor ESDM sekitar jam 3 sore.

Ia langsung meminta Sekjen, biro hukum, dan bidang terkait berkumpul dan membuat draft surat perpanjangan kontrak.

Setelah rapat, draft yang dibuatnya kemudian dinyatakan clear.

“Namun saat itu belum saya tandatangani,” terang Sudirman Said.

Surat tersebut pun ia serahkan pada Presiden.

“Bapak ibu mau tahu apa yang dikatakan presiden (saat saya memberikan draft itu)? ‘Begini saja sudah mau, kalau mau lebih kuat, yang diberi saja (Mofet)’,” ungkap Sudirman.

“Saya katakan surat itu perkuat posisi mereka, lemahkan posisi kita. Jadi kalau saya disalahkan karena posisi negara semakin lemah, maka salahkanlah yang menyuruh surat itu (presiden),” tandasnya.

Jawaban Jokowi

Sementara itu, diberitakan Tribunnews.com, Presiden Jokowi memberikan jawaban atas tudingan Sudirman Said yang akhirnya ramai dibicarakan tersebut.

Jokowi menjelaskan, pertemuan tersebut tidak dilakukan secara diam-diam (rahasia).

Menurutnya, pertemuan itu dilakukan berkali-kali dengan tujuan agar Indonesia menjadi pemegang saham mayoritas Freeport.

“Enggak sekali dua kali ketemu, diam-diam bagaimana? Pertemuan bolak-balik,” ujar Jokowi di Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (20/2/2019) malam.

Jokowi mengakui bahwa pertemuan tersebut terjadi membahas perpanjangan kegiatan operasi yang diminta pihak Freeport.

Namun, jelas Jokowi, saat itu ditegaskan bahwa pemerintah akan mengambil saham Freeport menjadi mayoritas.

“Ya perpanjangan, dia minta perpanjangan tapi sejak awal saya sampaikan, bahwa kita miliki keinginan itu (menguasai 51 persen saham Freeport),” ujar Jokowi

“Ketemu dengan pengusaha ya biasa saja, ketemu konglomerat biasa saja, ketemu yang sekarang (bos Freeport) biasa saja, ngapain saya,” jelasnya.

(TribunWow.com/Tiffany Marantika/Ananda)